Sunday, December 28, 2008

Pita 9 "Hanya Ada Satu Cara Yang Terbaik"

Sebagian besar pendidikan formal menyebabkan kita berpikir dengan cara ini.Di sekolah kita menggunakan sebagian besar waktu kita untuk mempelajari pemecahan suatu soal atau member jawaban atas suatu pertanyaan.Semua jawaban yang lain adalah jawaban yang tidak benar, dan orang yang paling sering memberikan jawaban yang benar biasanya adalah siswa yang terpandai. Setelah bertahun-tahun mempelajari cara yang benar, kita telah terbawa oleh jenis pemikiran ini ke dalam tugas-tugas kerja kita dan bidang-bidang lain dari kehidupan kita. Pada saat kita belajar tentang bagaimana melakukan sesuatu tugas, cara tersebut akan langsung merupakan satu-satunya jawaban untuk mengerjakan tugas tersebut. Pendekatan-pendekatan yang lain tidak perlu dipertimbangkan. Bila orang lain mengerjakan tugas tersebut secara berlainan, dia pasti telah melakukannya secara salah.

Bila tiba saatnya untuk bekerja, jenis pemikiran ini sungguh-sungguh dapat menyakitkan kita. Pemikiran yang kaku dan tidak fleksibel, menghambat kita untuk mendapatkan cara-cara yang baru, yang kreatif, lebih sederhana dan lebih baik untuk melakukan tugas tersebut.

Bila anda pernah memnemukan sebuah cara yang terbaik untuk melakukan suatu pekerjaan, bagaimana anda tahu anda telah menemukannya? kenyataannya anda tidak tahu. Pemecahan masalah-masalah tidaklah mutlak. Menyapu lantai bersih dengan sapu merupakan suatu pemecahan yang baik untuk masalah membersihkan kotoran, dibanding mengambil kotoran dengan tangan, tetapi bagaimana bila tersedia sebuah vacuum cleaner (alat penyedot debu)? Ketentuan yang baik adalah paling sedikit harus selalu ada 2 cara yang baik untuk melakukan sesuatu

Pita 8 "Kerja Bukanlah Kesenangan"

Uraian tentang bekerja dalam Perjanjian Lama memberikan gambaran yang sangat suram. Kerja dianggap hukuman dari dosa-dosa, dan manusia harus menggunakan sebagian besar waktu jaganya untuk bekerja keras membanting tulang agar supaya dapat bertahan hidup. Maka, dari Kitab Kejadian terlahirlah sebuah nilai yang menjalar : kerja bukanlah untuk dinikmati. Abraham Lincoln mengungkapkan pengertian ini ketika dia mengatakan “ Ayah saya mengejar saya untuk bekerja, tetapi tidak untuk mencintainya. Saya benar-benar tidak pernah suka bekerja, dan saya tidak mengingkarinya. Saya lebih suka membaca menceritakan kisah-kisah, bergurau, bercakap-cakap,tertawa, atau apa saja kecuali bekerja.”

Dari semua kisah yang diprogramkan, nampaknya kita telah membuat kemajuan dalam menghilangkan anggapan yang satu ini. Kebanyakan dari kita menyadari bahwa pemerasan enerji mental dan fisik merupakan hal yang wajar. Kerja dapat suatu kenikmatan, sangat tidak menyenangkan atau diantara keduanya, tergantung dari individu dan macam pekerjaan itu sendiri. Kesulitan dalam mengikuti pita ini adalah bahwa bila anda berkeyakinan bahwa hanya ketidaknyamanan saya yang terkandung dalam bekerja , maka itulah semua yang akan anda peroleh.

Anda menanggung resiko tinggi apabila denagn cepat anda mengubah kepuasan-kepuasan hidup terbesar yang ada pada diri sendiri.

Saturday, December 27, 2008

Pita 7 "Kerja Keras Adalah Bijaksana"

Salah satu tradisi yang terdapat dalam masyarakat kita mengatakan bahwa ada kebijaksanaan dan kemulyaan dalam bekerja keras. “Dia adalah seorang pekerja keras” atau “ Sebenarnya dia itu gesit”, dianggap sebagai pujian yang tinggi. Pengertian bahwa “Kerja itu sendiri adalah baik” dan bahwa seorang pria atau wanita yang bekerja itu tidak hanya memberikan sumbangan pada rekan-rekan prianya saja, tetapi menjadikannya serang yang lebih baik dengan kebijaksanaan kegiatan kerjanya, demikian kuat tertanam di dalam benak kita, sehingga tidak dapat menangani perasaan-perasaan bersalah dan tidak pantas bila menjadi pengangguran. Bahkan ada yang sampai bertekad mengakhiri kehidupan mereka. Mereka itu bunuh diri. Di antara nilai-nilai di dalam masyarakat kita, yang satu ini hamper tidak tertandingi.

Adanya anggapan bahwa setiap kegiatan manusia harus mengikut-sertakan seratus persen kebijaksanaan yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya, perlu dipertanyakan. Kerja keras dapat menjadikan beberapa orang berhasil, dapat juga menghancurkan orang-orang lain. Hal ini tergantung pada pribadi dan jenis pekerjaannya. Dari semua hal yang telah saya baca, saya yakin, akan amanlah untuk beranggapan bahwa Hitler adalah seorang pekerja keras. Bila ada kemuliaan di dalam karyanya, saya benar-benar tidak mampu untuk melihatnya.